Menurut Purjanti,dkk (2017), Hidroponik berasal dari
dua kata Yunani. Hydro yang berarti air dan ponos yang berarti
mengerjakan, sehingga hidroponik memiliki arti cara budidaya tanaman dengan
menggunakan media air. Dari sejarah telah diketahui bahwa hidroponik telah
berkembang secara sederhana sejak jaman dahulu kala, yaitu Babilonia dengan
taman gantung dan suku Aztek dengan rakit rumput.
Hidroponik adalah budidaya pertanian tanpa menggunakan media tanah, sehingga
hidroponik merupakan aktivitas pertanian yang dijalankan dengan menggunakan air
sebagai media pengganti tanah. Sehingga sistem budidaya tanaman secara
hidroponik dapat memanfaatkan lahan atau area yang sempit. Pertanian dengan
menggunakan sistem hidroponik tidak memerlukan lahan yang luas dalam
pelaksanaannya, sehingga dalam bisnis pertanian hidroponik layak dipertimbangkan
mengingat dapat dilakukan di pekarangan rumah, atap rumah maupun lahan sempit
lainnya (Roidah, 2014).
Hidroponik merupakan sebuah perkembangan dari produksi
pangan komersial, serta dapat digunakan dalam produksi pangan dalam skala kecil
seperti pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Hidroponik merupakan bagian dari hydroculture,
yaitu pertumbuhan tanaman yang menggunakan media selain tanah, yaitu lingkungan
perairan. Konsep menumbuhkan tanaman dengan hidroponik adalah dengan
menggunakan larutan hara dan mineral untuk memberikan makan tanaman menggunakan
media air. Pengembangan hidroponik di Indonesia cukup
prospektif mengingat beberapa hal seperti permintaan pasar sayuran berkualitas
yang terus meningkat, kondisi lingkungan dan iklim yang tidak menunjang, dan terdapat
masalah degradasi tanah serta alih fungsi lahan pertanian menjadi pemukiman
(Rosliani, 2005).
Pertanian menggunakan sistem hidroponik telah
diterapkan secara luas dan memiliki beberapa keunggulan jika dibandingkan dengan sistem budidaya tanaman secara konvensional, yaitu mengurangi risiko atau
masalah budidaya tanaman yang berhubungan
dengan tanah seperti gangguan serangga, jamur dan bakteri yang hidup atau berasal dari tanah (Swastika, dkk. 2017).
