Sektor pertanian memiliki peran penting dari keseluruhan perekonomian
nasional, terutama bagi Indonesia yang merupakan sebuah negara agraris. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya penduduk maupun tenaga kerja yang hidup atau bekerja dalam
sektor pertanian atau dari produk-produk
yang berasal dari sektor pertanian. Pertanian dalam artian yang luas terdiri dari lima sektor utama, yaitu tanaman pangan, perkebunan, peternakan,
perikanan dan kehutanan. Kelima sektor pertanian tersebut bila ditangani dengan
serius dapat memberikan
dampak yang
besar bagi perkembangan perekonomian Indonesia di masa mendatang. Salah satu cara penanganannya adalah dengan cara berorientasi pada bisnis pertanian atau agribisnis (Soekartawi, 1999).
Sektor Pertanian di Daerah Istimewa Yogyakarta mempunyai peranan yang sangat penting, hal ini dikarenakan sektor pertanian mampu menyumbang sekitar 9,72 persen untuk produk domestik regional bruto atas dasar harga berlaku tahun 2021. Produksi sayur-sayuran di Daerah Istimewa Yogyakarta memang tidak setinggi di Provinsi lain di Pulau Jawa seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Banten. Hal ini disebabkan karena luas wilayah pertanian Daerah Istimewa Yogyakarta yang relatif lebih kecil, sehingga lahan pertanian yang ada juga lebih kecil. Walaupun demikian, produksi sayur-sayuran di Daerah Istimewa Yogyakarta diharapkan dapat terus meningkat sehingga mampu berdikari dalam memenuhi kebutuhan pangan wilayahnya sendiri.
Tabel Data Produksi Sayuran Daun di Provinsi
Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2012-2021
|
Nama Sayuran |
Produksi (ton) |
|||||||||
|
2012 |
2013 |
2014 |
2015 |
2016 |
2017 |
2018 |
2019 |
2020 |
2021 |
|
|
Kubis |
127 |
584 |
175 |
194 |
2 |
0 |
0 |
0 |
0 |
1 |
|
Kembang Kol |
207 |
223 |
316 |
364 |
369 |
453 |
320 |
261 |
250 |
189 |
|
Sawi |
6603 |
6447 |
5606 |
6453 |
3910 |
3630 |
3241 |
3094 |
3337 |
4136 |
|
Kangkung |
2123 |
3130 |
2468 |
2844 |
2546 |
2696 |
2419 |
2953 |
3779 |
5791 |
|
Bayam |
1260 |
1552 |
1321 |
1545 |
1838 |
1378 |
1438 |
1258 |
1504 |
2038 |
|
Selada |
326 |
351 |
401 |
442 |
428 |
471 |
370 |
344 |
389 |
397 |
Sumber : BPS Provinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta Tahun 2012-2021
Menurut Widiyantoro,
dkk (2020), kebutuhan
pangan adalah kebutuhan asasi setiap
manusia, sebagai kebutuhan pokok maka aspek pangan tidak dapat diabaikan
dikarenakan menyangkut eksistensi dan perkembangan sebuah negara dalam
pembentukan sumberdaya manusia yang berkualitas. Namun, penyusutan jumlah luas
lahan pertanian menjadi permasalahan seiring dengan perkembangan populasi manusia
dan peningkatan berbagai kebutuhan akan lahan. Pengurangan luas lahan pertanian
yang terjadi secara terus menerus menjadi sebuah ancaman dan tantangan bagi bangsa
Indonesia untuk mewujudkan negara yang mandiri di bidang pangan.
Tabel Data Luas Lahan Sawah (hektar) D.I
Yogyakarta Tahun 2006-2015
|
No |
Tahun |
Luas Lahan Sawah
(hektar) |
|
1 |
2006 |
56.218 |
|
2 |
2007 |
55.540 |
|
3 |
2008 |
55.332 |
|
4 |
2009 |
55.325 |
|
5 |
2010 |
55.523 |
|
6 |
2011 |
55.291 |
|
7 |
2012 |
55.023 |
|
8 |
2013 |
55.126 |
|
9 |
2014 |
54.417 |
|
10 |
2015 |
53.553 |
Sumber : BPS Provinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta
Hidroponik merupakan salah satu solusi di bidang pertanian dengan menggunakan
teknologi sederhana untuk memudahkan masyarakat dalam bercocok tanam. Budidaya tanaman
hidroponik dilakukan dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan media tanah,
tetapi pada praktiknya menggunakan media tanam lain sebagai pengganti tanah
seperti rockwool, hidroton, sekam, cocopeat, busa, dan lain
sebagainya. Hidroponik dapat memproduksi
tanaman yang lebih higienis karena umumnya tidak menggunakan pestisida
kimia, dapat dijadikan
profesi baru bagi para petani
dan masyarakat yang lebih hemat dalam penggunaan tenaga kerja, meningkatkan pemenuhan sumber gizi keluarga
dan masyarakat, dan apabila diusahakan dalam skala besar dapat meningkatkan
ekspor produksi hortikultura segar dan berkualitas tinggi yang dapat berkontribusi untuk menambah devisa negara (Tallei, 2017).
Sayur-sayuran adalah salah satu jenis tanaman hortikultura yang
dalam pembangunan ekonomi mempunyai prospek yang cerah di pasaran. Tanaman
selada (Lactuca sativa L.) merupakan tanaman hortikultura yang memiliki nilai ekonomi tinggi, pada umumnya selada dimanfaatkan bagian daunnya kemudian
digunakan untuk lalapan, pelengkap sajian masakan dan hiasan pada sebuah
hidangan, tanaman selada dikonsumsi
dalam bentuk segar (mentah) sehingga
kehegienisan tanaman selada
dari residu pestisida serta
mikroorganisme yang berbahaya untuk kesehatan
manusia menjadi prioritas
utama. Pemanfaatan teknologi
hidroponik untuk produksi tanaman selada adalah solusi untuk menghasilkan komoditas yang bebas
residu pestisida, bebas
mikroorganisme berbahaya sehingga
kualitas produk yang dihasilkan
akan
lebih unggul karena kebersihannya terjamin. Selada juga memiliki khasiat untuk pengobatan
berbagai macam penyakit antara lain: rabun ayam (xerophthalmia),
memperlancar pencernaan, pengobatan susah tidur, mencegah tekanan darah tinggi,
mencegah diabetes dan menurunkan kolesterol dalam darah. Selada mengandung gizi
serta vitamin antara lain: Kalsium, Fosfor, Besi, Vitamin A, B dan C.

