Perkembangan Industri Jamu Sebagai Obat Herbal Modern di Era Industri 4.0

 

Siapa yang tak kenal istilah jamu? Jamu adalah obat herbal tradisional khas dari Indonesia, terbuat dari berbagai macam bahan-bahan alami dari tanaman seperti daun, kulit tumbuhan, bunga, buah dan juga akarnya. Selain itu, ada juga jamu yang terbuat dari bahan hewani, beberapa contohnya adalah madu, susu, telur ayam, dan bahkan terdapat juga jamu dari bahan-bahan ekstrim seperti empedu dan darah hewan.

Beberapa orang mengatakan bahwa jamu memiliki rasa yang pahit, tetapi tidak semua jamu seperti itu, karena dalam proses pembuatannya dapat ditambahkan gula atau pemanis lain agar dapat mengurangi rasa pahit dari jamu itu sendiri. Namun, terlepas dari keanekaragaman rasa yang disajikan, jamu telah dijadikan obat herbal oleh nenek moyang selama berabad-abad dengan tujuan untuk memperkuat sistem imun tubuh manusia.
Temulawak atau Curcuma Xanthorriza merupakan salah satu bahan yang sering digunakan sebagai bahan obat herbal, yang didalamnya terkandung senyawa kurkuminoid yang dapat membantu proses metabolisme dan fisiologis seseorang. Pengobatan menggunakan bahan temulawak sering disasarkan untuk mengobati gangguan pencernaan, sakit kuning, keputihan, serta meningkatkan daya tahan tubuh.
Bahan lain yang juga sering digunakan untuk obat herbal adalah Kunyit (Curcuma longa. L), yang dipercaya sebagai obat antibiotik terbaik dalam sejarah perobatan rakyat India, selain itu kunyit digunakan untuk melancarkan pencernaan, antioksidan, antiinflamasi, antibakteri dan antivirus.

Meski pada zaman modern ini sudah banyak obat-obatan yang dinilai ampuh mulai bermunculan, obat tradisional tetap menjadi pilihan masyarakat pedesaan maupun perkotaan untuk pengobatan alternatif penyakit mereka, terutama karena jamu dinilai sebagai obat herbal dengan bahan-bahan pembuatan yang alami, sehingga lebih aman untuk dikonsumsi.

Hingga saat ini, sudah banyak sekali usaha lokal yang memproduksi minuman jamu dengan rasa yang nikmat serta tampilan kemasan yang lebih menarik. Salah satu yang telah mempraktekkan teknologi modern dalam pembuatan jamu adalah Re.juve. Teknologi cold-pressed umum digunakan dalam pengemasan minuman seperti jus buah, jus sayur, dan tentunya paling sering digunakan untuk pengemasan minuman kopi. Namun, kali ini teknologi cold-pressed ini digunakan oleh Re.juve untuk mengemas jamu tradisional, sehingga jamu yang diproduksi menjadi "naik kelas", dari segi kebersihan, rasa, dan bentuk dari packaging itu sendiri. Teknologi cold-pressed ini dapat membuat bahan-bahan jamu terhindar dari kontaminasi, terjaga di suhu dingin, dan terhindar dari oksidasi dalam proses pembuatannya. Hal tersebut sangat penting dalam menjaga nutrisi dari jamu, sehingga kandungan gizi seperti enzim, vitamin, mineral dan antioksidan tidak akan rusak.

Industri jamu di Indonesia tidak pernah layu, bahkan pada tahun 2007 telah terjadi pertumbuhan yang sangat signifikan dari penjualan produk jamu yang mencapai nilai Rp. 6 triliun rupiah, serta menciptakan lapangan pekerjaan sebanyak 3 juta lapangan kerja dengan pasar konsumen terbesar di pulau jawa yaitu 60% dari total penjualan. Sementara itu di kota Yogyakarta sendiri, nilai produksi jamu pada tahun 2014 mencapai Rp. 12,2 milyar dengan jumlah tenaga kerja terdaftar yang diserap mencapai 285 orang.
Kepala Seksi Industri Kimia Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) DIY mengatakan bahwa kapasitas produksi jamu di DIY masih dapat ditingkatkan lagi hingga Rp. 17,7 milyar.
Ditambah lagi, pada tahun 2020 sebanyak 30 penjual jamu gendong di DIY telah mendapatkan sertifikasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), jumlah ini menambah daftar penjual jamu gendong di Indonesia bersertifikasi BPOM yang telah mencapai 176 pelaku usaha. Dengan sertifikasi ini, maka para penjual jamu gendong ini telah lolos dalam uji higienitas dan sanitasi terkait dengan kegiatan produksi serta penjualan.

Dengan melihat dari pesat dan banyaknya kegiatan ekonomi terkait dengan jamu ini, kita dapat menilai bahwa industri jamu tidak akan pernah mati, setidaknya untuk beberapa dekade kedepan, dan bahkan bisa menjadi abadi apabila inovasi dan kreasi terus dikembangkan. Kita sebagai warga negara Indonesia dengan sejuta keragaman budaya dan potensi, sudah selayaknya kita terus menyokong industri tradisional di Indonesia khususnya industri jamu agar para pelaku usaha ini dapat terus eksis di bumi pertiwi.

YuliusSatya-Atlantians

i am 13 years old, a am have a round face, black eyes, and short. I like playing computer games,,, my favorite game is : GTA, Atlantica, C & C, etc. I am not diligent, but i smart, hahaha

Post a Comment

Previous Post Next Post